Langsung ke konten utama
Menggadai waktu - “Jenuh tak pernah salah”
Oleh : Imron Shafreezal
Jika saudara pernah mendengar kalimat “sabda alam tak pernah
ingkar” atau “cinta tak pernah tepat waktu”, maka kali ini saya menawarkan
sebuah narasi yang berjudul “jenuh tak pernah salah”. Dalam kehidupan sehari-hari, aktifitas serupa yang dilakukan
secara berulang-ulang hingga menjadi sebuah rutinitas, kerap membuat kita
merasa jemu dan akhirnya mengerucut pada kata “jenuh”.Kejenuhan dapat mengancam siapa saja, dimana saja, dan kapan
saja. Ia gemar bersemayam dalam hati dan fikiran manusia yang senantiasa
dihadapkan pada satu masalah atau pekerjaan yanhg sama secara terus-menerus. Sebagai pembela, “jika hari-hari tersebut tidak diisi dengan
kerja keras, maka “amunisi” tidak akan cukup untuk bertahan dihari-hari
selanjutnya”. Kutipan kalimat tersebut sama sekali tidak salah, dan benar
adanya. Penggambaran rutinitas yang monoton dapat dianalogikan
sebagai “satu warna”, artinya tidak ada hal yang menarik untuk dikonsumsi raga
dan alat fikir. Perlu pembeda, perlu selingan, perlu adanya “warna baru” yang
menjadikan hari-hari itu bercorak dan ragam akan warna. Kita tidak bisa menyalahkan sebab, apalagi menyalahkan akibat. Yang harus kita lakukan
adalah “berhenti” sejenak dan beranjak untuk mencari “warna baru”. Waktu tidak
bisa dicari, apalagi harus dibeli. Tapi waktu dapat digadai untuk ditukarkan
dengan sesuatu hal yang baru, agar “jenuh” yang sudah terlanjur mengakar tadi
dapat runtuh secara perlahan.
Muara Karing, 13 Oktober 2019
Komentar
Posting Komentar